Jumat, 31 Oktober 2014

Hai.

Sapaku ke temanku. Kita baru saja bertemu setelah 2 hari terpisah. Terasa begitu sebentar. Temanku namanya Yezral. Dia suka makan serbet. Sambel Goreng Serbet pake ati ampela adalah andalannya. Lord.

Kali ini kami memutuskan untuk bertemu di salah satu restoran yang berlokasi di bibir jurang tebing curam, Islamabad. Seperti biasa, dia terlihat riang. Selalu tersenyum. Senyumnya lebar selebar Pasifik, seakan aku bisa tertelan olehnya. Selain hobi ngemil serbet, dia sangat suka karakter Inspektur Lestrade, pada Novel Sherlock Holmes.

Setelah saling berbalas senyum dan sapa, kami lekas duduk. Diam selama beberapa detik, sebelum dia mulai menceritakan pengalamnnya selama 2 hari terakhir. Dia bilang, di hari terakhir sebelum pertemuan ini, dia sudah tidak mengunyah serbet. Serbet kesayangannya yang berukuran 5,6 x 7,7 m2 sudah habis.  Dia bilang, dalam perjalanan ke restoran ini tadi, dia melihat toko serbet yang gokil.

Dia mengibaratkan Serbet Kecil seperti kue-kue lebaran. Kadang dia memakannya dengan parutan keju dan susu blender. Dia ingin mampir ke toko tersebut, namun apa daya sudah tutup. Menurut catatan di pintunya, pemilik mau keluar negeri untuk waktu yang lama.

Jadi temanku memutuskan untuk terus saja berjalan ke Restoran ini. Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki pelayan Restoran. Semerbak harum bau udang rebon dan ebi mulai menggoda lubang hidungku. Aku alergi udang, tapi tidak jika sudah memakannya. Aku hanya alergi jika tidak memakan udang yang sudah dimasak dan disajikan setengah matang dengan saus mayones bertabur lada hitam dan kuah kari. Aku tidak sabar untuk menikmatinya. Senyum kemenangan seakan dapat buntut dan tiga angka yang menyeringai dari wajah temanku pun tak tertahankan. Hidangan diletakkan di meja.

Perasaan ini seperti akan membuka cadar mempelai wanita untuk kukecup keningnya. Tanpa sadar, tanganku yang berkulit sawo matang ini pun merayap ke penutup hidangan yang sudah tersaji anggun di meja. Perlahan kubuka makananku. Begitupun temanku. Dan......

Betapa terkejutnya. Ketika aku mendapati hidanganku berupa Oseng-oseng serbet dengan taburan ebi diatasnya.  Satu hidangan lainnya adalah Serbet Balado Lada Hitam dengan sedikit saus tiram. Aku terduduk. Lesu. Lapar. Dengan malasnya kutengok pelayan tadi. Kulitnya, wajahnya, matanya, mulutnya, payudaranya, bahkan perutnya terbuat dari Serbet.

Tamat. :(

Powered by: @sedangkan


Sabtu, 26 April 2014

Satu lagi masuk ke bilik antrian. Seorang Olahragawan. Namanya Lano.Dengan kontur muka yang tirus. Seakan bola mata yang ingin loncat keluar.

"Kamu. Iya kamu. Kenapa bisa sampai ke bilik antrian ini..!?" Kelakar Munkar.

"Aku terkena sebuah penyakit. Yang tidak begitu jarang, tapi juga tidak sering menyerang kaumku." Sergah Lano.

"Jangan bilang kamu terserang jurus Mokuton!" Kata Munkar.

"Tidak. Itu hanya semacam hemoglobin namun berwarna putih. Namun dalam jumlah besar." aku Lano.

"Baik. Silahkan ambil tiketmu. Matamu sepertinya memar. Beristirahatlah. Pesanlah segelas Hezelnut panas." Perintah Munkar.

Kemudian, Lano bergabung ke altar. Bersama yang lain. Beristirahat. Menatap nanar ke layar lebar. Ke Negeri Catalan.

#RIPTitoVilanova

Powered by: @sedangkan

Sabtu, 19 April 2014

“….Pak, Bu, saya berangkat dulu ya, do’ain biar saya sukses, bisa beli mobil kayak orang gedongan.” Kata Nasar sambil memeluk bapak ibunya dengan airmata bercampur ingus yang membuat tetangganya menguyah Antimo.

Nasar pergi menaiki angkot dari kampungnya, niatnya ingin kerja di Jakarta, mau jadi pengusaha biar bisa membiayai hidup bapak, ibu dan adiknya yang baru lulus SMP.

Sesampainya di Jakarta, Nasar, menyeka keringatnya,
 “Panas banget.. Aku mau cari kosan tapi dimana ini ya, ketutup gedung semua gimana nyarinya. Piye iki..” keluh Nasar sambil mengecek isi tasnya, Nasar takut tiba-tiba nanti dicopet kayak di FTV yang biasa dia tonton.

 Ketika melihat dompetnya dia tepaku pada suatu gambar yang sering menemaninya kala di kampung. Ya, dia Musdalifah pacarnya Nasar. Nasar mulai teringat suka duka bersama Musdalifah, mulai dari colek-colekan idung pas ditaman, sampe pelukan yang diakhiri teriakan tukang bakso malang yang minta dibayar dagangannya. Nasar tau dia bakal kangen banget sama Musdalifah, ya tapi gimana dia ke Jakarta juga buat Musdalifah, biar punya banyak uang dan kemudian melamarnya. Tekad Nasar memang sudah bulat akan keputusan ini, tapi ada yang sedikit dia sesalkan, dia sampai gak berpamitan sama Musdalifah karena saat itu dia lagi sedikit berantem sama Musdalifah hanya karena Musdalifah mergokin Nasar mengendus-endus keteknya bapaknya. Tapi untungnya dia sudah titip pesan sama Ibunya..
…..
“Mas, mas.. MAS!! Hell to the O Hellloooo!” Nasar terbangun dari lamunan ketika mendengar ada suara yang seakan memanggilnya. 
“Mas, jangan duduk disini mas, ini gerobak tape saya. Kalo beli mah gakpapa deh, lah ini bengong. Cape dorongnya tau!” Kesal tukang tape singkong.

 “Wuaduhhh! Iyo iyo iyo mas maap maap, aku kok ora sadar e. Ah piye aku ini..” Sesal Nasar. 
Nasar mulai mencari kosan, yang di Jakarta itu salah satu hal yang langka. Langkahnya terhenti pada penjual minuman, dia membeli sebotol air mineral. Air segar tersebut mengalir indah di padang pasir yang bernama tenggorokan. Tak sampai 10 menit beristirahat Nasar melanjutkan perjalananya mencari kosan sambil menendang-nendang botol air mineral yang habis diminumnya tadi. Nasar memang suka bermain bola, walau badannya agak sedikit gempal namun dia cukup berguna di lapangan untuk menggendong temannya yang habis mencetak gol. ‘What ever you say, I can’t play well but I still celebrate’ adalah moto permainannya.

Sudah berkeliling, ditemani panas dan debu, tapi masih belum ketemu, Nasar frustasi dia menendang botolnya dengan keras, 

“Prak!!!” 

“Aduh!!! Siapa yang nendang nih kampret!” Ternyata botolnya kena cewek – namanya Tasya –  yang baru keluar dari mobil. 

“Oalahhh apes kali aku ini, abis deh kena semprot si mbaknya.” Nasar segera menghampirinya sambil menundukkan kepala seraya minta maaf. 

“Maaf mbak maaf, aku gak sengaja.” 

“Lain kali hati-hati dong mas! Untung Cuma botol plastik, coba kalo tabung gas? Bisa ke rumah sakit..” Jawab Tasya, yang membuat Nasar sedikit tersenyum. 

“Ah mbaknya bisa aja, sekali lagi maaf yoo mbak.” Nasar mulai berani memandangnya.. Nasar bengong dengan mulut yang menganga cukup lebar, tiba-tiba tukang kaset dvd gerobakan memainkan lagu Glenn Fredly, ‘Terpesona ku pada pandangan pertamaaa..’  Sayup-sayup terdengar, mengiringi rambut indah Tasya yang seakan tertiup angin.

(satu jam kemudian)

“Mas.. mas.. ilernya elap mas. Lama banget bengongnya.”

Ketika Nasar ingin melanjutkan perjalanannya, tiba-tiba tuh cewek manggil. “Mas mas, minta tolong dong, mobil saya mati bisa tolong cekin gak?”

 Dengan segala ilmu sotoy Nasar pun sok otak atik tuh Mobil. “Mbak, mobilnya jarang di servis ya?”

“Kok tau??”

“Soalnya Mbak pasti sibuk di kahyangan. Mbak Bidadari kan?”

“Aihhh serius, gombal deh. Hehe, by the way, Tasya.” Tasya sambil menjulurkan tangannya sambil tersenyum.

Diajak berkenalan cewek cantik, Nasar tersenyum bagai tukang cilok yang laris di SD-SD..
“Saya Nasar mbak, gara-gara dinamain Nasar saya jadi Nyasar nih mbak disini.” Curhat Nasar panjang lebar sambil mendorong mobilnya ke bengkel yang akhirnya gak sanggup Nasar benerin.

“….Oh jadi kamu merantau, butuh kosan sama kerjaan? Ngekos deket rumah aku aja, nanti kamu kerjanya di Showroom mobil papa aku. Emang sih gajinya gak besar, tapi bonusnya lumayan. Gimana?”

“MAU MBAK!!!” Nasar reflek nyiumin tangan Tasya sambil bingung Tasya sebenernya anggota MLM level diamond atau malaikat. Tasya mengelap tangannya karena jika kelamaan ingus Nasar bisa berkerak dan melubangi tangannya.

Akhirnya Nasar dapat kosan dan kerjaan yang nyaman. Beruntung sekali dia..

…..

(2 Tahun kemudian)

Nasar mulai dipercaya Papa Tasya karena kinerjanya yang bagus. Rejeki Nasar ngalir terus, mengirimi orang tuanya setiap bulan, membiayai adiknya sekolah, tapi dia inget Musdalifah, gimana kabar Musdalifah, apakah dia sudah dilamar orang lain?? Nasar mulai cemas, sedangkan disini dia semakin dekat dengan Tasya. Papanya Tasya juga udah dianggap Papanya sendiri, tak jarang Nasar minta digendong dan disuapi bubur sun.

Tapi masalahnya Nasar masih menyimpan rasa pada Musdalifah, dan tak ada rasa cinta pada Tasya yang sudah dianggap sebagai adiknya sendiri.
Nasar bingung bagaimana mengungkapkannya pada Tasya. Nasar duduk di tempat tidur sambil memandangi HP china miliknya..

Rasa kangennya pada Musdalifah tak terbendung lagi, Nasar akhirnya minta izin buat pulang sebentar ke kampung. Dia ingin menjenguk keluarganya. Nasar pulang dengan pakaian lebih rapi dari dia pergi, kemeja, dasi, dengan PD Nasar menyapa tetangganya ramah, tapi siapa yang menyangka resleting Nasar terbuka lebar, membuat tetangga di kampungnya kembali mengunyah Antimo.

“Assalamu’alaikum, pak, bu.” Sambil mengetuk pintu dengan cat rumah yang tampak masih sedikit basah. Sepertinya bapak dan ibu Nasar abis renovasi.

“Oalah! Anakku sudah jadi orang kantoran yo? Gimana enak di Kota?” Setelah basa-basi dan cerita tentang perjalanannya selama ini di Jakarta tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumah Nasar.

“Assalamu’alaikum..”

“Wa’alaikum salam” Nasar dengan cepat membuka pintunya.

“Musdalifah..”

“Mas Nasar.. Kamu lama sekali mas. Aku nunggu kamu disini. 5 lamaran aku tolak, bapakku sampai kesal.” Curhat Masdalifah sepenuh hati.

“Maafkan aku Musdalifah, aku pergi tanpa pesan, pulang tanpa kepastian. Tapi mendengar ceritamu sungguh aku ingin cepat-cepat melamarmu. Aku tak mau ada pria lain yang mencoba menggodamu lagi.” Ungkap Nasar persis seperti di film India.

Akhirnya Nasar dan kedua orang tuanya pergi melamar, lamaran berjalan dengan baik, bulan depan mereka akan menikah.. Nasar cukup bahagia sebelum ingat betapa tidak enaknya Nasar pada keluarga Tasya di Jakarta.
Tapi apapun itu, Nasar haruslah jadi gentleman, Nasar harus berani jujur. Tiba di Jakarta Nasar menceritakan semua tentang pertunangannya di depan keluarga Tasya dan mengundang mereka ke acara pernikahannya bulan depan.

Nasar pasrah dan menutup mata, seakan bersiap merasakan sebuah tamparan di pipinya. Tapi ternyata…. Ketika Nasar membuka matanya, Bapak, Ibu, dan Tasya tersenyum manis, saat itu nasar melihat ke bawah dan mendapati tiga buah garpu makan telah menancap di perutnya..

“DASAR GAK TAU MALU! PERGI KAMU DARI RUMAH SAYA!” Kata Papanya Tasya.
“AKU KECEWA SAMA KAMU, KAMU JAHAT!” Kata Tasya.

Nasar pulang digotong petugas ambulan..
Berifikir ini semua salahnya yang gak pernah jujur sama perasaannya, jadi ada orang yang merasa di-PHP-in, Di-kode-in, padahal diluar dari itu semua Nasar hanya mencoba setia pada Musdalifah, karena dia ada disini juga karena Musdalifah. Nasar mencoba move on, dia gak punya kerjaan lagi. Dengan perut penuh perban, Nasar pulang ke kampungnya dengan lega bercampur sedih, dan kadang menarik nafas panjang memberikan sedikit celah di hati yang sesak.
Tiba di kampung, dia cerita semuanya ke Musdalifah, khawatir Musdalifah akan kecewa dan membatalkannya karena Nasar sudah tak punya apa-apa lagi, 

Nasar pasrah..

Musdalifah tersenyum.

“Aku bangga sama kamu, mas. Kamu rela kehilangan segalanya buat aku. Mulai sekarang kita buat usaha kecil-kecilan aja disini, hidup sederhana asal bahagia.”

Nasar sadar dia gak salah pilih pasangan. Orang yang selama ini dia cinta ternyata memang selalu ada dalam keadaan apapun.

Akhirnya Nasar jualan Mie Ayam dengan modal yang tersisa ditabungannya, tentunya dengan segala ilmu marketing yang dia dapat selama bekerja di Jakarta. Tahun demi tahun, Mie Ayamnya cukup sukses, sampai memiliki cabang dan pegawai dimana-mana, hingga bisa mensejahterakan keluarga kecilnya. Nasar tersenyum lebar, kemudian mengecup kening istrinya, Musdalifah, yang sedang mengandung anaknya yang kedua.
Tak lupa dia selalu bersyukur dan berdoa untuk Tasya dan keluarganya yang telah banyak membantu dalam hidupnya.
-TAMAT-

follow @pixfow

Selasa, 15 April 2014

"Kamu duluan!!"... teriak sobatnya".

"Enggak!! Kamu dulu!!"...sahut Aquis.

"Oke-oke. Kita gambreng aja gimana?".. kemudian Aquis dan Aquios gambreng.

Tak lama setelah 12 kali gambreng yang berujung hasil sama, "YES!!! AKU MENANG JADI KAMU DULUAN, AQUIS!!! YES". Teriak Aquios girang.

Akhirnya, dengan pasrah, tanpa nanah dan hati berdarah, Aquios pun terjun. "Oke Fine...sampaikan salamku pada Roberta."...

Dan akhirnya, Aquios pun terjun. Diikuti teman2 yg lain. Dari shower yang telah dinyalakan oleh Pak Sumardi yang baru pulang kerja.

Tamat.

Inspired by: Air yang keluar dari shower.

Quote: Inti dari cerita super pendek tadi ndak ada. Makanya, kalo ndak paham sesuatu hal, mbokya jangan ngeyel. Ndak ada obatnya.

*Lantas siapa Roberta!!!???? Silahkan tanya ke Jose Fernando Hilario Fausto da Cunha. Yang entah itu siapa saya juga ndak tahu.

Powered by: @sedangkan

Jumat, 11 April 2014

Nggak selamanya patah hati itu apes sama kayak gak selamanya makan jengkol itu bikin orang pingsan kebauan. Emang sih pasti bau, tapi sebau-baunya jengkol nggak ada tuh yang sebau kebohongan. Sesakit-sakitnya patah hati nggak ada yang sampe buat lo patah semangat buat hidup, tergantung bagaimana lo menciptakan peluang move on itu sendiri.
Selama ini gue biasa sendiri – terlepas dari masalah entah belum ada yang mau atau guenya yang pilih-pilih – ya karena terbiasa.. orang bilang bisa karena terbiasa, gue bilang bisa karena ada kemauan, kalo nggak mau mana bisa terbiasa, kalo nggak mau patah hati ya jangan dibiasain mendekati hal-hal yang buat hati lo sakit.



Tidak semua hal-hal patah hati itu akibat pacaran. Bisa aja seseorang menghina poni yang menurut lo indah; walau memang sebenernya kayak jamet yang palanya dicelupin  sampo metal. Toh banyak orang pacaran yang bahagia. Elonya aja kali yang apes.. gue gak bilang menjauhi hal-hal yang buat hati lo sakit itu berarti menjauhi jatuh cinta. Jatuh cinta itu anugrah, tapi mungkin bisa aja dapet orang yang salah. Walau salah kan semua ada hikmah. Sebenernya hikmah ini anaknya siapa ya.. kok tiba-tiba dateng terus disetiap masalah. Takut ah..

Berawal dari bbm temen gue, dia punya problem sama cowoknya, sekali lagi COWOKnya, oh God why? Cewek-cewek gak pernah ngerti akuh – entah kenapa setiap temen ada masalah gue kayak dijadiin semacem kakek-kakek dengan seribu pengalaman sama mereka – Dia bilang:
 “Bro, cowok gue dengerin lagunya Raisa – Mantan Terindah pas banget abis gue berantem sama gue. Galau bro galau..”
“Serius? Sebelumnya dia nggak ada niatan dengerin lagu yang lebih macho gitu buat cowok?”
“EH SERIUS!!!”
“O..Oke sorry, (hamper aja gue terbunuh). Terus lo galau hanya karena dia ‘is listening Raisa – Mantan Terindah’ gitu? Lo piker dia lagi kangen mantannya gitu?”
“Iya… abis gue takut aja gitu. Malah ya parahnya lagi abis lagu itu dia dengerin Rio Febrian – Jenuh. Aaaaaaaaa…”
“Cowok lo playlistnya Rock banget.. Lo itu terlalu memusingkan hal-hal yang sebenernya lo takutkan. Hal yang lo takutkan sebenernya bukan buat dipikirkan. Kalo lo mau jauh dari galau, kemauan lo harus lebih besar dari ketakutan lo. Mungkin cowok lo emang lagi ngodein lo, tapi bukan berarti lo itu patah hati harusnya lo mikir kenapa dia kayak gitu. Kalo dia salah, tanggepin dengan ego lo, kalo lo yang salah beri pengakuan. Cowok butuh cewek yang peka dan nggak sering ngambekan.” Tukas gue panjang lebar dengan diakhir batuk kecil. Ahiyy..

Akhirnya dia ngaku kalo selama ini dia emang udah egois banget ama tuh cowok. Kalo gue jadi cowoknya gue lebih pilih lagu Joni Iskandar – Secangkir Kopi… “Kupulang malaaaam.. karena tak tahaaan.. mencari hiburan diluar rumaaah”~Ini kenapa kayak menjelma jadi penyanyi komidi puter ya...

Tapi kalo gue jadi dia sih gue juga pasti galau dikodein sama lagunya rio febrian. Pernah nggak ya? Kayaknya gue juga pernah deh.. Tapi gak tau sama yang mana haha. Coba deh lo kodein pacar lo pake itu lagu, dan lihat bagaimana reaksinya. Apalagi lo pasang NSP, pas pacar lo nelfon “Maaf ku jenuh padamu~ Lama sudah kupendam tertahan di bibirku~ Mau ku tak menyakiti~ meski begitu indah ku masih tetap saja~ Jenuh~”— gue yakin abis itu pacar lo kayak.. mengapa… salah gue apa… dan mukanya pasti random abis.

Ketika kita sayang sama seseorang, mengapa kita berkamuflase sebagai orang lain. Ketika kedua hati saling sayang kenapa tidak mencoba menabur benih harapan, mengatur visi kedepan, bukan malah sibuk mengurus ego atau perbedaan…

(PXW)

Selasa, 26 November 2013


LDR oh LDR..

Buat ngejalanin hubungan LDR (Long Distance Relationship) tuh butuh 7 kali mikir, suka disindir, gelisah tiada akhir, malem minggu gak nelfon atau sejam gak ngabarin ketar ketir. Kenapa ya ada orang yang setia untuk LDR tanpa khawatir, padahalkan belum tentu semuanya dapat terus mengalir.

Contoh temen gue namanya Amir, dia LDR Bandung-Pondok Petir, entah kenapa dia bisa tahan LDR 3 tahun terakhir, mungkin kepercayaannya mulai terukir, padahal awalnya LDR-kan karena masalah hati yang salah parkir, tanpa mikir-mikir langsung aja anak orang ditaksir. Si Amir tiap hari beli pulsa buat ngusir kangen dihatinya yang udah mulai mampir, telfonan sampe kuping berlendir, sms-an sampe jempol mirip tutup botol bir. Tapi si Amir bahagia karena dia pikir semua ini udah takdir, walau banyak yang nyiyir, rasa sayang si Amir tetep gak bisa diusir.

Suatu saat si Amir mengunjungi pacarnya di Pondok Petir, dandan keren banget biar pacarnya tambah naksir, naek metro mini keringet udah banjir, pas sampe rumah pacarnya malah mirip vampir. Oh Amir, mau ganteng tapi malah salah tafsir. Tapi pacarnya makin sayang sama si Amir, karena perjuangannyalah yang bisa buat hatinya mampir. Pacarnya mengambilkan kopi secangkir, wajar si Amir yang berkeringat diusap pakai sapu tangan bergambar tapir. Si Amir tersenyum seraya berfikir, inilah alasan kenapa dia bertahan walau rasanya getir. Ketika bertemu, rasanya seperti tamasya ke pulau samosir. Setelah seharian melepas kangen si Amir pun melipir, pamit ke kedua orang tuanya yang katanya juragan pasir. Amir pulang dengan senyum yang terpatri di bibir...

Itulah Amir.. Jarak sejauh apapun ditempuh tanpa mikir-mikir. Rasa sayang, percaya, dan cinta sudah terukir, membuatnya kuat tanpa berfikir sedikitpun kalau hubungannya bisa saja berakhir. LDR manapun bisa seperti Amir, yang lagi ngejalanin hubungan deket-deketan juga bisa saja jadi LDR kalo emang itu takdir. Semua sudah diberi jalan masing-masing dan tak perlu khawatir. Kebahagiaan pasti mampir ke orang-orang yang ikhlas, berdoa, berjuang, dan berkorban tiada akhir...

[@pixfow]

Senin, 11 November 2013

Hello vroh. Udah lama banget ya gue gak posting. Gatel sebenernya. Tapi gimana lagi. Tugas kuliah gue lagi gak nyantai, udah lagi gue gak punya paket modem. Jadi, gue harus pinter-pinter nyempil diruangan yang terkoneksi wifi..

Kali ini gue mau cerita, dan mungkin ada yang sudah lupa sama tema ceritafikshit ya, disini gue jelasin lagi blog ini ya sekedar bacaan seru-seruan, isinya lebih banyak fiksi ya. Haha.

Okey, belakangan gue lagi 'gloomy' banget sama masalah hati gue, entah kenapa kayaknya gue lagi apes. Tapi dibalik apes itu gue dapet banget pelajarannya, pelajaran kayak apa yang gue maksud? Pelajaran mata kuliah statistika 100 SKS. Shanggup? haha nggaklah ya.. Selamat membaca!! jeng jenggg...!!!!

Belakangan ini gue lagi bosen,bosen,boseeeen banget. Sampe 3 kali gitu gue bilang bosen lo bisa bayangin mungkin bosen gue ini kayak nunggu kapan inspektur vijay di film india nyukur kumisnya. Gue bosen kenapa sih? Bosen setiap hari gak kangen siapa-siapa, gak ngucapin selamat pagi ke siapa-siapa, kalo laper atau sakit gak diperhatiin siapa-siapa, padahal selalu ngasih wejangan ke temen-temen yang pacaran, tapi kenapa gak gampang pacaran? Masih jadi misteri kenapa para single punya wejangan-wejangan super, walau sebenernya mengenaskan..

Suatu hari gue dikenalin temen gue sama seoarang cewek, ehm.. Sebut saja namanya Tasya, anaknya baik...gue aja sering dipuji 'lucu kayak anak monyet' sama dia. :')
Awal-awal gue kenal dia sih emang momentnya pas banget, kesan pertamanya dapet banget, gue nyaman, pokoknya semua yang gue lakuin sama dia itu seru. Ya karena gue juga baru kenal sih sama dia, belum tau jeleknya dia kayak gimana.. Tapi bodohnya gue, gue udah mulai sayang sama dia, bahkan sampe lupa peluang sakit pasti ada, sampe gue lupa bawa tameng untuk sekedar berlindung.

Jadi.. saat itu gue bawa dia ke salah satu konser musik, pas banget yang main Maliq and D'essentials mereka bawain lagu "pilihanku" waktu itu, gue dengan segenap kekuatan yang gue punya, memberanikan diri buat nembak saat itu. Karena gue yakin ini moment yang pas, feeling gue juga bagus dan kayaknya bakalan di terima. Yeay gue udah ngarep sedemikian rupa. Dan.. Gue nembak dia dengan kata: "Emm sya, ini lagunya enak ya? Judulnya pilihanku. Btw, Lo mau gak jadi pilihan gue?" Yak! Jantung gue... dimana jantung gue.. dimana... Gue deg-degan banget, kayak suami-suami yang ketauan selingkuh sama istrinya. Gue tatap mulutnya, berharap akan keluar kata-kata manis. Yap... Akhirnya dia membuka mulutnya, dan jawaban apakah yang gue dapet...... Dia nguap. Gue lemes. Dia cuma diem. Nampaknya agak sedikit kebingungan dan berfikir. Dalem hati gue ya sudahlah, toh gue gak mungkin juga maksa dia untuk hal ini. Karena gue sadar terlalu berambisi memiliki seseorang itu bukanlah cinta, tapi egois.

Akhirnya gue pulang.. Sesampainya di rumah sekitar jam 1 malam, gue sebentar mampir tuk berbincang. Disana gue beraniin buat nembak dia lagi. Gue keluarin kalimat ter-mainstream yang menurut gue flat banget buat nembak. "Lo mau gak jadi pacar gue?" Dia diem.. diem.. diem.. Dan tiba, tiba terdengar suara toke!! Dia mulai jawab ngikutin suara toke itu. "Toke!" Terima. "Toke!" Nggak. "Toke!" Terima. "Toke!" Nggak. "Toke!" Terima. Dan seketika hening.. Toke itu nggak bunyi lagi. Dan yang ada diotak gue saat itu adalah kalo toke itu sampe bunyi sekali lagi, gue akan cari, dan bunuh dia secara brutal! Akhirnya dia gak bunyi lagi. Dan bodohnya gue seneng.. Padahal gue diterima cuma gara-gara toke! :')
Tapi gue mencoba bertanya akan keseriusan jawaban dia. Dan dia bilang, "ya, itu jawaban emang yang aku pengenin juga." Gue sok-sok santai, cuma senyum dikit padahal dalem hati kayak dapet inbox tajir.

Sehari, dua hari, gue mesra-mesra aja layaknya pengantin baru, pulang kampus gue jemput dia kerja, kumpul bareng temen gue, ngedate.. Ya pokoknya apa yang selama ini gak ada di 'rundown' hidup gue, gue mulai jalanin itu. Hari-hari berikutnya mulai ada yang aneh, kadang dia gak mau gue jemput, alesannya sih bareng sepupu atau temen kerjanya yang searah rumahnya. Oke, gue bisa terima itu..
Sampai akhirnya gue ajak dia nonton bola bareng, karena saat itu kebetulan tim favorit gue lagi main. Gue teriak-teriakan nontonnya tapi kok dia cuma main hp, gue mulai berfikir dia bete.. Tapi gue curiga, kok segitu seriusnya sih main hape disaat ada cowoknya disebelah. Strategi 'fish-eye' gue mulai menyerang hapenya, dan apa yang gue dapet?! Dia lagi asik chatting sama mantannya. DAMN! rasanya ingin sekali gue menelan hape bersama jempolnya bulat-bulat.
Tapi gue bukan cowok tipe beringas, gue cuma santai pura-pura gak tau dan mencoba tetap menikmati pertandingan klub favorit gue.

Nobarpun telah selesai...
Gue mulai menyindir dia dengan hal-hal lucu, menggoda dia untuk jujur, sampe akhirnya dia panik, oke, gue akhirnya dapet jawaban selama ini. Ternyata dia gagal move on sama mantanya, dan selama gue gak jemput dia ternyata dijemput sama mantannya, itu info yang gue dapet dari temen kerjanya. Bagus sekali aktingnya.. *ngunyah kunci inggris*
Baru genap seminggu, dia minta gue buat jauhin dia, dengan alasan gue terlalu baik buat dia.. Ah, gue menyesali sesuatu.. Kenapa gue gak nyopet tipi pas main ke rumah lo!
Baiklah gue akhiri saja hubungan ini.. Dan kabarnya gue disuruh ngejauh karena doi mau balikan lagi sama mantannya. Good job, babe!

Gue dapet seminggu pacaran, bingung, sebenarnya ini relationship atau UTS. Tapi dibilang UTS juga gak ada salahnya sih, karena mungkin ini memanglah ujian, ujian dimana gue harus banyak belajar sebelum mengambil keputusan. Dan lo mungkin satu diantara jawaban pilihan ganda yang salah buat gue pilih. Dan kesalahan ini akan gue buat pelajaran lagi, dan sebagai pengalaman untuk tidak lupa kalo "Pilihan ganda itu sebenarnya bukan cuma memilih abjad, tapi juga memilih isi yang paling benar dari abjad tersebut." Dan semoga pelajaran ini akan sangat berharga pada saatnya gue akan menempuh 'UAS' nanti. :)


[@pixfow]

Senin, 24 Juni 2013

Cerita menarik ini dikirimkan oleh Saudara Amin. Pertama gue baca ini, gue jadi inget gue juga pernah ngerasain itu dulu. Mungkin juga lo pernah ngerasain. Mari siapkan kopi, roti dan quota yang mencukupi. Langsung aja kita simak ceritanya:

Dear Cerita Fikshit, ini cerita bukan kisah atau dongeng.. Dipaido keneng artinya boleh diabaikan.. Hmm.. Sungguh jelas dari judul yang aku tulis di atas. Sejak di SMK, Gambar Terlampir ya.. 
SMKN 11 Semarang, aku banyak menemui dan mengalami berbagi hal. Terutama masalah remaja, cinta. Tapi apakah aku yang ngedown atau nggak punya mental? 
Aku masih berpikir tentang wejangan atau nasehat bapakku. Jangan pacaran jika belum bekerja.
Setiap cewek yang aku deketin dan udah kasih respon, tau-tau temenku juga ngedeketin dia. Maklum, SMK sangat sedikit sekali ceweknya. Kalo ada yang "melek" sedikit aja langsung jadi rebutan. Hampir ada 5 kasus yang sama dan semuanya sih inceran ke adik kelas. Hahahaha... Dan aku selalu mengalah demi temenku, walau kadang aku sudah tau kalo ceweknya pasti menolak. Kerena sudah terlalu deket denganku. Jadi, temenku curhat ke aku, dan si cewek juga curhat ke aku.. Aku hanya sebagai pihak ke 3 untuk memuluskan hubungan yg akan di bangun... (Hiks.. Tisyu mana tisyu..) 
Sedih sih, tapi bahagia aku bisa lebih dekat dengan si cewek (sampe bisa tau musik favorit tukang batagor langganannya) daripada aku seumpama sebagai pacarnya belum tentu aku sebahagia ini... Itu mengapa Aku Jomblo Tapi Heppy.. Hiiihi. Tips dan trik, kalo saja jurusan multimedia di sekolahku ada sejak jamanku sekolah, pasti aku sudah mem-film-kan ceritaku sebagai tugas akhir. Tapi, multimedia / broadcasting ada setelah aku lulus. Walaupun begitu kisah ini tetap menjadi film, ya mungkin bukan dilayar kaca, tapi ku pastikan kisah ini selalu tayang di hati..



Gimana men kisah mas Amin? Pernah kayak gitu nggak? 
Dari cerita tersebut kita bisa ambil kesimpulan guys, persahabatan lebih penting daripada memenangkan ego untuk memiliki seseorang yang sebenernya kita belum tau ending-nya akan bahagia atau malah patah hati. Jadilah pribadi yang senyaman mungkin untuk teman kita, niscaya kita akan disukai banyak teman tanpa harus memaksa mereka menyukai kita. Sebuah cinta memanglah butuh kepastian, tapi disuatu sisi cinta itu sulit diprediksi, bukan kayak ftv, bukan senikmat sushi, bukan juga sesegar buah kecapi. Cinta itu anugrah jika disyukuri, menjadi hakiki. Apalagi mengalah demi teman kayak mas Amin, itu keren sob walaupun agak gatel-gatel di hati.. Hiihihii.. Tapi ya... Sudahlah..
[Dikirim Oleh @Ameans83]